Wednesday, January 9, 2013

Membaca tanka; makna cinta yang berlapis Kala Ramesh


Dengan cinta, siapapun bisa menjadi penyair. Anda boleh menanggapi kalimat itu dengan ringan hati sebagaimana mereka yang hanya berpuisi ketika perasaan berbunga-bunga. Tetapi, tidak semua puisi cinta bermuara pada trivia. Puisi-puisi yang ditulis oleh para imam sufi kerap menukik pada persoalan-persoalan esensial tentang cinta yang ilahiah melalui penggunaan berbagai metafor tentang percumbuan, dan percintaan. Pada kesempatan yang lain, puisi cinta bisa menjadi sangat liris tanpa kehilanga kedalaman. Tanka Kala Ramesh yang saya kutip di bawah ini adalah salah satu contohnya.

love
is an oasis
you say...
or does our thirst
play tricks on us?

Tanka itu saya temukan beberapa waktu silam saat memastikan publikasi naskah saya di blog sindikasi Akita Haiku Network yang dikelola oleh, Hidenori Hiruta. Naskah yang sama kembali saya temukan di galeri tanka di situs yang dikelola oleh Michael Mc Clintock, Mariko Kitakubo, Amelia Fielden, Tom Clausen, Jeanne Emrich dan Margareth Chula. 

Meskipun ditulis dengan gaya minimalis, tanka itu menunjukkan penguasaan Ramesh yang sangat baik terhadap teknik penulisan tanka. Padahal, menurut saya, Ramesh mengawali tankanya dengan sebuah pemerian cinta terasa klise. Cinta, sebuah oasis.

love 
is an oasis
you say...

Ketika berhenti membaca di akhir baris kedua, saya menangkap banyak hal dari "cinta" yang memabukkan, sekaligus dirindukan. Diperikan sebagai oasis, yang memberi refuge, memberi jeda pada perjalanan yang melelahkan. Pada tingkatan yang lebih spiritual, ia adalah jalan sufi untuk mencapai pembebasan. Lalu, oasis macam apakah yang dimaksud Ramesh? Oasis yang mendamaikan, menenteramkan, memberikan sejuk penawar dahaga? 

Setelah membaca sejumlah karyanya, saya menangkap muatan romantisisme pada Ramesh. Namun, saya belum menemukan catatan yang menunjukkan Ramesh menulis tanka ini sebagai sebuah alusi, sekalipun tiga baris pertama itu mengingatkan saya pada Le Voyage milik Charles Baudelaire. Pada akhir bait pertama Bagian VII Le Voyage, penyair Perancis romantik abad 19 itu menulis "Une oasis d'horreur dans un d├ęsert d'ennui!" A pool of dread in the desert of dismay. Apakah oasis yang dimaksud Ramesh adalah a pool of dread? Sebuah genangan penuh horor di tengah berbagai kekecewaan yang harus dilalui dalam hidup seperti teks Baudelaire? Sepertinya Ramesh tidak sedang menggurui kita dengan sebuah jawaban. Ia membiarkan pembaca menemukan sendiri oasis-nya. Di titik inilah kita bisa menangkap berlapis-lapis makna yang ada dalam tanka Ramesh itu.

does our thirst
play tricks on us?

Pada dua baris terakhir, Ramesh seperti mengingatkan kita mengenai cinta yang ilusif, sekaligus dipersepsikan secara salah. Apakah cinta? Cinta memberikan kesejukan, atau justru horor seperti oasis Baudelaire? Apakah cinta selalu menyejukkan? Di sinilah kita menemukan arti yang berlapis-lapis itu. Semakin kita menelusuri jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu, kita mungkin akan sampai di ujung yang berbeda-beda. Selain makna yang berlapis-lapis itu, kita menemukan betapa pintar Ramesh bermain dengan teks dan teknik penulisan terlihat sederhana namun sebenarnya rumit. Lihatlah bagaimana ia memulai dengan kata love dan oasis yang menggoda kita dengan makna yang berlapis-lapis itu. Dan, di dua baris terakhir ia memberi kita teks yang menggelitik berbagai pertanyaan; apakah cinta sebuah oasis yang nyata? Apakah yang memberikan sensasi itu adalah cinta? Apakah rasa haus (thirst) berlebihan yang membuat kita menganggap semua yang indah adalah cinta? 

Sebagaimana rasa haus berlebihan karena dehidrasi, keinginan yang sangat bisa menurunkan kemampuan kita menafsirkan dan membuat kalkulasi atas sesuatu. Pada kasus cinta yang romantis, menurut laporan Psychology Today, lovers are often blind to the beloved's negative traits and tend to create an idealized image of the beloved. Seseorang yang dilanda cinta, cenderung lebih fokus pada hal-hal yang indah, baik dan ideal pada subjek yang dicintai. Tidak jarang, idealisasi terhadap subjek itu sampai pada tingkat yang fiksional, yang tidak nyata, condong pada sesuatu yang ada dalam ekspektasi daripada yang dihadapi dalam realitas. 

Pada tanka itu, Ramesh bermain dengan asosiasi antara oasis dengan cinta yang ilusif, dengan mirage yang lazim tertangkap oleh mata di dataran panas di bawah terik matahari. Pada seseorang yang melakukan perjalanan siang di gurun, misalnya, mirage kerap terlihat sebagai genangan air atau perigi pada sebuah oasis. Dan, sebagai gejala optikal, mirage adalah fenomena yang nyata, sebagai akibat dari pembelokan berkas cahaya oleh benda, udara atau partikel tertentu di atmosfer. Dalam kesadaran yang utuh, seseorang tidak mudah mengalami kesalahan persepsi terhadap image yang terbentuk oleh mirage. Namun, ketika kondisi tubuh lemah, otak yang kekurangan oksigen, kesadaran yang menurun, bentuk-bentuk yang tercipta oleh mirage bisa sangat meyakinkan. 

Sejauh berhubungan dengan cinta, segala sesuatu bisa sangat meyakinkan dan bisa juga sangat menipu. Dengan tanka yang ringkas, Ramesh bicara sebanyak itu. Bahkan mungkin lebih. Dan bagi saya pribadi, ini adalah tanka yang akan lama tinggal dalam ingatan.

Ramesh memiliki latar belakang akademik ilmu sejarah, politik dan sastra Inggris. Selain itu, ia juga seorang pemusik yang terlatih dalam tradisi musik Karnataka dan Hindustan. Ia berkenalan dan langsung jatuh cinta kepada haiku pada tahun 2005. Sejak itu, karirnya sebagai haikuist melesat cepat. Ia merebut berbagai penghargaan internasional, naskah-naskahnya diterbitkan oleh berbagai jurnal haiku yang disegani. Saat ini, ia menjadi editor haiku dan puisi pendek Muse India yang dipimpin oleh Surya Rao.

No comments:

Post a Comment